Sebenarnya udah lama mau nulis ini, tapi kelupaan dan tergantikan oleh hal2 lain. Trus entah kenapa tadi malam, liatin anak kicik yang lagi tidur, tiba2 keinget lagi sama topik ini.
Sebenarnya ini gw mau curcol sih...so bear with me :)
Singkat cerita, gw beberapa kali disebut/dijudge/dilabeli sebagai emak ambisius. Bagi yang bener2 kenal gw, mungkin akan mengangkat alis dan komen: "Masa sih?"
Karena yang bener2 kenal gw, baik itu keluarga atau teman2 dekat, tau pasti betapa kurang ambisius nya gw kalo udah menyangkut soal Ius. Gw ga bilang gw ga ambisius samsek. Ambisius itu pasti ada di tiap ibu, cuma memang kadar ambisius-ness (bahasa apa pula ini) gw ga gede. Ambisi terbesar gw dari Ius masih dalam perut adalah: "He will be a happy baby, happy boy, happy teenager, happy man" That's it.
Nah jalan menuju dia menjadi "happy" ini yang memang berliku2. Sebagai emak nya, gw diharuskan membantu Ius mencari dan eksplore hal2 yang bikin dia happy. Mulai dari hal simple like cuddling, mainan, timezone, MAKANAN (ini yg utama) sampai dengan mengembangkan hobby nya. I said hobby...not talent or bakat. Gw sadar, my son may have talent in things that he doesn't like or makes him happy. Jadi kalo dia punya hobby yang kebetulan adalah bakatnya...maka bersyukurlah gw. Kalo ngga, gw balik lagi ke ambisi utama gw: "Ius happy"
Rendah nya level ambisius-ness gw, bikin gw sempat disebut "emak ga pedulian" (serba salah yah, neeekkk). Misalnya umur 4 bulan Ius belum bisa tengkurap, gw santai minta ampun. Umur 1 tahun Ius belum ngomong, gw cuek bebek. At the end, Ius would decide when he wanted to do those milestones.
Nah trus kenapa donk tetiba gw disebut emak ambisius? Trigger awal nya adalah ketika gw dan suami memutuskan menerapkan multi languange ke Ius. Ini juga yang gw sempat diceramahi : "ini nih yg bikin anak nya telat ngomong" *tutup kuping, sumpal mulut yg ngomong pake pampers*
Lalu, ketika gw mulai masukin Ius sekolah di umur 17 bulan. Walo cm kelas playdates 1-2x seminggu dimana gw or suster nya masih ikut masuk kelas. Masih untung Ius ga gw masukin sekolah umur 6 bulan yah, bisa dirajam sekampung gw kayaknya. *sigh*
Waktu gw masukin Ius ke preschool nya yg sekarang, ada lagi donk tentu nya yg komen. Standard lah: "Mahal amat? International yah ga usah lah internasional. Jgn AMBISIUS? Yakin worth it? Ga sayang kan masih preschool n TK doank lho." *kembali tutup kuping, tunjukin slip gaji...nooh gaji gw gede, duit bukan masyaaalaaaahhhhh* *kemudian ditampar*
Dan gong nya...beberapa bulan lalu gw daftarin Ius buat les musik. Gw dan suami punya pertimbangan bahwa anak harus dikenalkan dengan musik dan olahraga. Perkara nanti nya dia suka atau ngga, mau mendalamin atau ngga, itu biar si anak yg putuskan. Yang penting dia ngerasain dulu deh.
Nah mulai deh komen2 bersliweran. Mulai dari Ius nya yg dianggap masih kekecilan lah, yang bilang ini cuma ambisi emak nya lah, emaknya kebanyakan duit lah *amiiinnnn*.
Kadang gw kasian yah sama emak2 zaman sekarang, ga cukup pusing kerja + ngurusin rumah/anak/suami. Masih ditambah beban mental dari orang2 yang sebenarnya ga tau apa2, tapi cuma pengen nyinyir doank.
I know, gw nulis beberapa kali dengan topik yang mirip seperti ini. Again, I am not whining, not complaining, not blaming. I just write it down, so I can read it one day in future and ensure I will not do any of those stuffs (nyinyir, kompetitip ga penting, judging ga jelas, komen tanpa dipikir). Gw ga bilang gw ga melakukan hal2 itu. Gw masih sering gemes liat anak2 yg disodorin sinetron sm emak2 nya, masih suka ngomong pedes kalo liat anak2 terlihat "dipaksa" melakukan sesuatu oleh orang tua nya (dipaksa makan porsi kuli, dipaksa mandiri sebelum waktunya), etc etc.
I am learning to limit myself, though. Trying very very hard :)
Size of my brain
- dailysiranica
- Come, read and rest your brain (maybe) forever
Showing posts with label motherhood. Show all posts
Showing posts with label motherhood. Show all posts
Wednesday, August 14, 2013
Thursday, July 18, 2013
Don't "under-estimate" yourself
Jumat lalu gw ke sekolahan nya Ius, ada parents orientation. Biasalah, para orang tua (yang 99% diwakilkan oleh emak2nya) ngumpul dan dikasih semacam penjelasan oleh guru kelas anaknya. Sekalian kenalan juga sama guru2 baru anaknya dan tentu nya kenalan antar orang tua. Dimana setelah itu, contact BBM langsung nambah drastis hihihihii...emak2 banget dah.
Dan secara gw bukan material ibu2 POMG (atau gimanalah tulisannya itu), gw cm basa basi seperlunya. Abis meeting yah ngabur langsung ke kantor...*sungguh wanita karir sejati*
Nah bicara mengenai wanita karir, ada sepotong percakapan yg agak menggelitik gw pas hari Jumat itu.
Jadi ibu2 di kelas Ius itu memang dari berbagai macam latar belakang. Secara umum terbagi 2, yg kerja dan yg ibu rumah tangga.
Waktu kita kenalan, setelah sebut nama dan nama anak, biasanya dilanjutkan dengan percakapan basa basi semacam: "kerja apa?" "besok nganter anaknya?", etc.
Ada seorang ibu yg duduk sebelah gw, anaknya baru masuk di sekolahan itu. Pas lg ngobrol2, entah lagi ngomongin apa ibu2 itu ngomong sekilas lalu dgn suara pelan nan lembut: "Iyah, biasa nya saya memang antar, karena memang cuma ibu rumah tangga, jd bisa nganterin anak sekolah"
Pada waktu itu kita yg lg ngobrol ga terlalu perhatiin, karena sibuk lanjut dgn diskusi lain dgn gurunya.
Pulang dari sekolahan, gw mikir, kenapa ibu itu terkesan merasa sedikit rendah diri dengan profesi nya sebagai ibu rumah tangga? I am not saying that she is wrong or everybody else in the room was judging her for being housewife.
Tapi gw lebih merasa, itu udah kayak stigma yg melekat di masyarakat kita bahwa seorang ibu rumah tangga, di depan nya harus ada embel2 kata "cuma", "hanya".
Gw menjadi agak gerah menyadari hal itu.
Gw ga harus menjelaskan atau membanding2kan di sini seberapa berat jd ibu rumah tangga atau seberapa berat menjadi wanita karir, etc. Semua itu pilihan and it takes mountain high of courage to choose one of those paths. Dan itu beda2 buat masing2 orang lho.
For me, maybe it will take 3 mountains of courage before I may one day decide to be ibu rumah tangga. Ga semua orang sanggup dan mau lho jadi ibu rumah tangga.
So, I kinda sad, masih ada di zaman sekarang orang2 yg mungkin tanpa sadar sedikit menganggap enteng pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, bahkan ga jarang suami dan keluarga sendiri juga begitu.
Yah I just wanna say, for all the "ibu rumah tangga", housewives, SAHM, atau apapun istilahnya, out there...be proud of yourself. You really need to introduce yourself as : "saya ibu rumah tangga" without embel2 "cuma" or "hanya" or "only" or "just".
Dan saya sebagai wanita karir kurang kerjaan di pagi hari nulis postingan ini, semoga buat para ibu rumah tangga (atau calon ibu rumah tangga) yg kebetulan baca, ini bisa jd confident booster (if you need it).
Dan for sure, I will revisit this post if one day I myself decide to be "ibu rumah tangga" :)
Dan secara gw bukan material ibu2 POMG (atau gimanalah tulisannya itu), gw cm basa basi seperlunya. Abis meeting yah ngabur langsung ke kantor...*sungguh wanita karir sejati*
Nah bicara mengenai wanita karir, ada sepotong percakapan yg agak menggelitik gw pas hari Jumat itu.
Jadi ibu2 di kelas Ius itu memang dari berbagai macam latar belakang. Secara umum terbagi 2, yg kerja dan yg ibu rumah tangga.
Waktu kita kenalan, setelah sebut nama dan nama anak, biasanya dilanjutkan dengan percakapan basa basi semacam: "kerja apa?" "besok nganter anaknya?", etc.
Ada seorang ibu yg duduk sebelah gw, anaknya baru masuk di sekolahan itu. Pas lg ngobrol2, entah lagi ngomongin apa ibu2 itu ngomong sekilas lalu dgn suara pelan nan lembut: "Iyah, biasa nya saya memang antar, karena memang cuma ibu rumah tangga, jd bisa nganterin anak sekolah"
Pada waktu itu kita yg lg ngobrol ga terlalu perhatiin, karena sibuk lanjut dgn diskusi lain dgn gurunya.
Pulang dari sekolahan, gw mikir, kenapa ibu itu terkesan merasa sedikit rendah diri dengan profesi nya sebagai ibu rumah tangga? I am not saying that she is wrong or everybody else in the room was judging her for being housewife.
Tapi gw lebih merasa, itu udah kayak stigma yg melekat di masyarakat kita bahwa seorang ibu rumah tangga, di depan nya harus ada embel2 kata "cuma", "hanya".
Gw menjadi agak gerah menyadari hal itu.
Gw ga harus menjelaskan atau membanding2kan di sini seberapa berat jd ibu rumah tangga atau seberapa berat menjadi wanita karir, etc. Semua itu pilihan and it takes mountain high of courage to choose one of those paths. Dan itu beda2 buat masing2 orang lho.
For me, maybe it will take 3 mountains of courage before I may one day decide to be ibu rumah tangga. Ga semua orang sanggup dan mau lho jadi ibu rumah tangga.
So, I kinda sad, masih ada di zaman sekarang orang2 yg mungkin tanpa sadar sedikit menganggap enteng pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, bahkan ga jarang suami dan keluarga sendiri juga begitu.
Yah I just wanna say, for all the "ibu rumah tangga", housewives, SAHM, atau apapun istilahnya, out there...be proud of yourself. You really need to introduce yourself as : "saya ibu rumah tangga" without embel2 "cuma" or "hanya" or "only" or "just".
Dan saya sebagai wanita karir kurang kerjaan di pagi hari nulis postingan ini, semoga buat para ibu rumah tangga (atau calon ibu rumah tangga) yg kebetulan baca, ini bisa jd confident booster (if you need it).
Dan for sure, I will revisit this post if one day I myself decide to be "ibu rumah tangga" :)
Friday, May 3, 2013
This week's favorite
Blogwalking kanan kiri (keja woiiii), nyasar lah ke sini
OMG, begitu baca tulisan itu rasanya dunia jadi cerah ceria. Bukan karena gw merasa sebagai terrible parent selama ini, dari semula gw sudah berprinsip "my child, my rules" and there's always a story behind every parenting style.
Tapi gw menemukan bahwa tulisan itu sungguh menyegarkan (es kelapa muda kaleeee) dan dituliskan dengan amat sangat ringan, tepat, kocak, menohok dan sekaligus...menyegarkan!
one of my favorite part:
You are not a terrible parent if you can’t figure out a way for your children to eat as healthy as your friend’s children do. She’s obviously using a bizarre and probably illegal form of hypnotism.
You are not a terrible parent if you yell at your kids sometimes. You have little dictators living in your house. If someone else talked to you like that, they’d be put in prison.
You are not a terrible parent if you just can’t wait for them to go to bed.
OMG, begitu baca tulisan itu rasanya dunia jadi cerah ceria. Bukan karena gw merasa sebagai terrible parent selama ini, dari semula gw sudah berprinsip "my child, my rules" and there's always a story behind every parenting style.
Tapi gw menemukan bahwa tulisan itu sungguh menyegarkan (es kelapa muda kaleeee) dan dituliskan dengan amat sangat ringan, tepat, kocak, menohok dan sekaligus...menyegarkan!
one of my favorite part:
You are not a terrible parent if you can’t figure out a way for your children to eat as healthy as your friend’s children do. She’s obviously using a bizarre and probably illegal form of hypnotism.
You are not a terrible parent if you yell at your kids sometimes. You have little dictators living in your house. If someone else talked to you like that, they’d be put in prison.
You are not a terrible parent if you just can’t wait for them to go to bed.
Monday, April 29, 2013
Galau episode seribu tiga ratus lima puluh empat
Tadi malam sebelum tidur, tiba2 si anak kicik ngomong: "Besok sekolah diantar mami ya..."
Dan tiba2 ada pedih di sudut hati (tsaaahh bahasanyaaa) when I slowly replied: "Mami besok ga bisa antar xiong2 yah, mami kan kerja, sayang..."
Dan setelah itu, anak kicikku masih berusaha negosiasi dengan kembali statement: "Besok diantar mami kok sekolahnya..."
Yah...sayah kembali galau sodara-sodara!!!
Dan tiba2 ada pedih di sudut hati (tsaaahh bahasanyaaa) when I slowly replied: "Mami besok ga bisa antar xiong2 yah, mami kan kerja, sayang..."
Dan setelah itu, anak kicikku masih berusaha negosiasi dengan kembali statement: "Besok diantar mami kok sekolahnya..."
Yah...sayah kembali galau sodara-sodara!!!
Monday, February 18, 2013
The Question(s)
So, I read this article in mommiesdaily dan tanpa sadar gw senyum2 sendiri sambil manggut2 *silakan dibayangkan gaya nya*
Bagi gw artikel itu sangat menggambarkan kenyataan di dunia keluarga dan sedikit banyak gw juga ngalamin seperti yang diceritakan. Dalam artian, ada pertanyaan2 (yang dianggap) standard, biasa dan wajar sehingga terkadang kita jadi begitu tidak sensitif nya menggunakan pertanyaan2 itu, menjurus kepo bahkan terkadang jadi berkesan "maksa" dan menghakimi.
Contoh:
"Waah pengantin baru? Udah isi belum?? Jangan ditunda2 lho...ga baik. Ga usah pake KB lah dulu, nanti mau dapet malah susah lho. Apa kurang "tokcer" aja nih? Perlu ga nih diajarinnn....???"
"Iiih...udah gede yah si kakak, kapan nih dikasih adek? Awas lho kelamaan sendirian nanti jadi manja, egois. Kalo cuma satu mah kurang, jeng. Cepetan lah dikasih adik lagi"
"Anaknya cowo yah dua2nya? Tambah lah satu lagi, cewe gitu. Kan enak kalo komplit ada cowo, ada cewe."
Contoh di atas sih masih versi standard yah. Kadang ada yang tanya sampai menjurus interogasi. Tiap kali ketemu ditanyain. Lama2 rasa nya pengen disambit juga kan yah?? *esmosi*
Lagian apa sih gunanya setelah kita tau pun itu orang kenapa belum punya anak, kenapa anaknya baru satu, kenapa anaknya selusin? Jujur aja deh, 99% itu cuma sebagai pemuas hasrat kita untuk bertanya kan yah?
Buat gw pribadi, I stop being kepo. I stop asking those questions. Kalo gw ketemu orang dan mau basa basi, gw memilih pertanyaan2 lain. Bisa gw tanya apa kabarnya dia, kerja dimana sekarang, tinggal dimana, tas nya bagus beli dimana, lipstik nya bagus merk apa, etc , dll, dsb.
Tuh, banyak kan hal lain yang bisa kita tanyain sebenarnya?
Kalopun keceplosan tanya2 hal begituan (kapan punya anak, etc), biasanya gw akan stop di jawaban pertama orang tersebut. Jadi ga gw cecar lagi lebih jauh. Apalagi kalo orang itu udah keliatan segan/ga niat jawab nya.
Bagi gw masalah mau punya anak kapan, mau punya anak berapa banyak, mau cowo mau cewe, itu semua urusan pribadi masing2 keluarga. If they want our opinion, they will ask kok. Kalo mereka mau cerita, mereka akan cerita kok. If they dont tell you, it means they dont want to tell you (yet).
Gw totally setuju dengan pendapat si penulis artikel di atas, apapun keputusannya, itu keputusan kita sendiri. Mau punya anak kapan, mau punya anak berapa. You're the one who will be in the game 24/7.
Menurut gw, that's your own battle. You own every decision and noone can judge you on that.
Bagi gw artikel itu sangat menggambarkan kenyataan di dunia keluarga dan sedikit banyak gw juga ngalamin seperti yang diceritakan. Dalam artian, ada pertanyaan2 (yang dianggap) standard, biasa dan wajar sehingga terkadang kita jadi begitu tidak sensitif nya menggunakan pertanyaan2 itu, menjurus kepo bahkan terkadang jadi berkesan "maksa" dan menghakimi.
Contoh:
"Waah pengantin baru? Udah isi belum?? Jangan ditunda2 lho...ga baik. Ga usah pake KB lah dulu, nanti mau dapet malah susah lho. Apa kurang "tokcer" aja nih? Perlu ga nih diajarinnn....???"
"Iiih...udah gede yah si kakak, kapan nih dikasih adek? Awas lho kelamaan sendirian nanti jadi manja, egois. Kalo cuma satu mah kurang, jeng. Cepetan lah dikasih adik lagi"
"Anaknya cowo yah dua2nya? Tambah lah satu lagi, cewe gitu. Kan enak kalo komplit ada cowo, ada cewe."
Contoh di atas sih masih versi standard yah. Kadang ada yang tanya sampai menjurus interogasi. Tiap kali ketemu ditanyain. Lama2 rasa nya pengen disambit juga kan yah?? *esmosi*
Lagian apa sih gunanya setelah kita tau pun itu orang kenapa belum punya anak, kenapa anaknya baru satu, kenapa anaknya selusin? Jujur aja deh, 99% itu cuma sebagai pemuas hasrat kita untuk bertanya kan yah?
Buat gw pribadi, I stop being kepo. I stop asking those questions. Kalo gw ketemu orang dan mau basa basi, gw memilih pertanyaan2 lain. Bisa gw tanya apa kabarnya dia, kerja dimana sekarang, tinggal dimana, tas nya bagus beli dimana, lipstik nya bagus merk apa, etc , dll, dsb.
Tuh, banyak kan hal lain yang bisa kita tanyain sebenarnya?
Kalopun keceplosan tanya2 hal begituan (kapan punya anak, etc), biasanya gw akan stop di jawaban pertama orang tersebut. Jadi ga gw cecar lagi lebih jauh. Apalagi kalo orang itu udah keliatan segan/ga niat jawab nya.
Bagi gw masalah mau punya anak kapan, mau punya anak berapa banyak, mau cowo mau cewe, itu semua urusan pribadi masing2 keluarga. If they want our opinion, they will ask kok. Kalo mereka mau cerita, mereka akan cerita kok. If they dont tell you, it means they dont want to tell you (yet).
Gw totally setuju dengan pendapat si penulis artikel di atas, apapun keputusannya, itu keputusan kita sendiri. Mau punya anak kapan, mau punya anak berapa. You're the one who will be in the game 24/7.
Menurut gw, that's your own battle. You own every decision and noone can judge you on that.
Monday, February 4, 2013
Potty training - the next phase
Mungkin udah pada tau kalo gw ini tipe yang suka bertahap. Mulai dari menyapih yang gw lakukan bener2 bertahap selama hampir 6 bulan, sampai sekarang potty training pun begitu. Alasannya simple, gw ga mau maksain ke Ius hal2 yang seharusnya dia putuskan sendiri dan masih dalam "teritori" nya sendiri. Dan tentunya, gw juga berharap dengan begitu, dia jadi lebih mandiri pada waktu nya.
Jadi potty training ini sebenarnya udah gw mulai dari dia umur 2 tahun lebih beberapa hari. Siang2 kalo lg main, gw udah ga pakein dia clodi or diapers lagi. Gw pun mulai berburu celana dalam mini yang lucuk2*horeee belanjaaa* .
Selanjutnya, Ius kalo bobo siang juga gw lepas clodi nya. Dan ga memakan waktu lama sampe anaknya terbiasa. Adapt nya tergolong cepat. Ada lah sesekali "bocor" misalnya anaknya lg asik main, dan ga mau pas disuruh pipis, eeehhh akhirnya "jebol"
Atau pas tidur siang juga beberapa kali "bocor". Tapi bagi gw itu normal lah. Sampe sekarang juga kejadian kok kadang2 masih suka ngompol siang2, I let it be.
Dan beberapa minggu yang lalu gw mulai berpikir untuk naik level. Lepas diapers Ius kalo bobo malam. Selama ini memang emaknya yg ga siap sih....ga siap repot *tolong jangan rajam saya*
Anak nya keliatan udah lumayan siap. Kadang2 mau bobo malam dia suka minta pipis dulu. Dan bangun pagi diapersnya masih kering. Tapi yah masih ga konsisten, kadang diapers nya pagi2 juga udah penuh :p
Waktu Jakarta dilanda banjir pertengahan January kemarin, gw terjebak di rumah ga bisa kemana2 donk yah. Bermodalkan internet buar browsing mulai lah gw berburu alat tempur.
Gw memutuskan untuk beli training pants. Padahal dulu sempat kepikiran ga usah melalui tahapan training pants. Langsung celana dalam aja.Tapi apa daya training pants di ol shop itu lucuk bukan main Tapi akhirnya gw putuskan pake training pants saja, biar emaknya anaknya ga kaget.
Training pants datang, dicuci dan tersimpan dalam lemari selama beberapa hari. Emaknya nih yahhh...cari alasan melulu: "Tunggu deh diapersnya abis dulu, sayang baru beli ini", "Aah musim hujan, pipisnya lagi banyak kalo dingin2 gini" Pokoknya cari pembenaran melulu dah *selftoyor*
Akhirnya, minggu lalu abis sikat gigi dan lagi mau ganti piyama, si bocah ngelihat ada training pants lucu teronggok mengenaskan di laci baju nya. Dan secara itu pants gambar mobil, truck, traktor...langsung donk si bocah dengan tegas mengatakan: "Pakai ini aja ya, mami"
Jedeeeerrrr...jadilah malam itu diapers dilepeh dan selamat datang training pants.
Langsung emaknya heboh pesan2 ke anaknya: "Ius, nti kalo mau bobo pipis dulu yah, kalo ngompol sayang kan celana truck nya nti basah" Dan ternyata pesan sponsor ini ampuh! Si anak nurut kalo diajak pipis, dan selama seminggu cuma "bocor" sekali aja :)
Tidur nya juga masih gw lapis pake bedcover bayi nya dia. Biar kalo bocor, ga langsung kena sprei dan kasur nya. So far, so lancar lah process ini.
PR gw selanjutnya : lepas diaper Ius di sekolah dan waktu jalan ke mol (dan tempat2 lain). Oh yah, satu lagi PR nya, potty training for pup. Anak ini masih ga mau pup di toilet hikss...ogah banget, bisa nangis2 kalo lagi "ngeden" mau pup kita pindahin ke toilet. PR banget dah yang ini *lap keringet*
Tapi bagaimanapun, I am one lucky mom. Ga terlalu banyak drama dalam semua milestone anak kicik ku ini. He is truly a great partner! Love ya much, Icarus.
Jadi potty training ini sebenarnya udah gw mulai dari dia umur 2 tahun lebih beberapa hari. Siang2 kalo lg main, gw udah ga pakein dia clodi or diapers lagi. Gw pun mulai berburu celana dalam mini yang lucuk2
Selanjutnya, Ius kalo bobo siang juga gw lepas clodi nya. Dan ga memakan waktu lama sampe anaknya terbiasa. Adapt nya tergolong cepat. Ada lah sesekali "bocor" misalnya anaknya lg asik main, dan ga mau pas disuruh pipis, eeehhh akhirnya "jebol"
Atau pas tidur siang juga beberapa kali "bocor". Tapi bagi gw itu normal lah. Sampe sekarang juga kejadian kok kadang2 masih suka ngompol siang2, I let it be.
Dan beberapa minggu yang lalu gw mulai berpikir untuk naik level. Lepas diapers Ius kalo bobo malam. Selama ini memang emaknya yg ga siap sih....ga siap repot *tolong jangan rajam saya*
Anak nya keliatan udah lumayan siap. Kadang2 mau bobo malam dia suka minta pipis dulu. Dan bangun pagi diapersnya masih kering. Tapi yah masih ga konsisten, kadang diapers nya pagi2 juga udah penuh :p
Waktu Jakarta dilanda banjir pertengahan January kemarin, gw terjebak di rumah ga bisa kemana2 donk yah. Bermodalkan internet buar browsing mulai lah gw berburu alat tempur.
Gw memutuskan untuk beli training pants. Padahal dulu sempat kepikiran ga usah melalui tahapan training pants. Langsung celana dalam aja.
Training pants datang, dicuci dan tersimpan dalam lemari selama beberapa hari. Emaknya nih yahhh...cari alasan melulu: "Tunggu deh diapersnya abis dulu, sayang baru beli ini", "Aah musim hujan, pipisnya lagi banyak kalo dingin2 gini" Pokoknya cari pembenaran melulu dah *selftoyor*
Akhirnya, minggu lalu abis sikat gigi dan lagi mau ganti piyama, si bocah ngelihat ada training pants lucu teronggok mengenaskan di laci baju nya. Dan secara itu pants gambar mobil, truck, traktor...langsung donk si bocah dengan tegas mengatakan: "Pakai ini aja ya, mami"
Jedeeeerrrr...jadilah malam itu diapers dilepeh dan selamat datang training pants.
Langsung emaknya heboh pesan2 ke anaknya: "Ius, nti kalo mau bobo pipis dulu yah, kalo ngompol sayang kan celana truck nya nti basah" Dan ternyata pesan sponsor ini ampuh! Si anak nurut kalo diajak pipis, dan selama seminggu cuma "bocor" sekali aja :)
Tidur nya juga masih gw lapis pake bedcover bayi nya dia. Biar kalo bocor, ga langsung kena sprei dan kasur nya. So far, so lancar lah process ini.
PR gw selanjutnya : lepas diaper Ius di sekolah dan waktu jalan ke mol (dan tempat2 lain). Oh yah, satu lagi PR nya, potty training for pup. Anak ini masih ga mau pup di toilet hikss...ogah banget, bisa nangis2 kalo lagi "ngeden" mau pup kita pindahin ke toilet. PR banget dah yang ini *lap keringet*
Tapi bagaimanapun, I am one lucky mom. Ga terlalu banyak drama dalam semua milestone anak kicik ku ini. He is truly a great partner! Love ya much, Icarus.
Tuesday, January 29, 2013
Working mom - to the next level
Next level dalam artian, dilema tingkat lanjut *hiks*
Jadi belakangan ini Ius sering banget pas pagi2 gw grabukan siap2 kerja, dia bilang: "Mami ga ganti baju, pakai baju ini aja"
Di logika polosnya dia, kalo gw ganti baju artinya yah gw berangkat kerja. Kalo gw pake baju tidur aja, gw akan di rumah sama dia. *mewek lah gw*
Walaupun pas gw tinggal berangkat kerja, dia ga nangis. Ius akan dengan manis nya dadah2 dan kissbye sama gw dan papinya.
Dan ini isi percakapan tadi pagi di walk-in closet ketika gw grabak grubuk dandan+ganti baju. Dan Ius berdiri perhatiin gw:
Ius: "Mami ga ganti baju. Masuk-masukin lagi aja (bajunya masukin lemari lagi maksudnya)"
Gw: "Mami kan harus kerja, sayang"
Ius: "Ga mami harus kerja"
Gw: "Kan mami kerja cari uang. Kalo ga kerja nanti mami gimana beliin Ius roti, susu, biskuit"
Ius: "Xiong2 udah punya otii kok. Oti (roti) warna coklat. udah ada kok..." (sambil senyum manis dan matanya polos liatin gw)
*byaaarr...jleb* pengen mewek rasanya saat itu juga TT____________TT
-Icarus, 2 years and 7 months old-
Jadi belakangan ini Ius sering banget pas pagi2 gw grabukan siap2 kerja, dia bilang: "Mami ga ganti baju, pakai baju ini aja"
Di logika polosnya dia, kalo gw ganti baju artinya yah gw berangkat kerja. Kalo gw pake baju tidur aja, gw akan di rumah sama dia. *mewek lah gw*
Walaupun pas gw tinggal berangkat kerja, dia ga nangis. Ius akan dengan manis nya dadah2 dan kissbye sama gw dan papinya.
Dan ini isi percakapan tadi pagi di walk-in closet ketika gw grabak grubuk dandan+ganti baju. Dan Ius berdiri perhatiin gw:
Ius: "Mami ga ganti baju. Masuk-masukin lagi aja (bajunya masukin lemari lagi maksudnya)"
Gw: "Mami kan harus kerja, sayang"
Ius: "Ga mami harus kerja"
Gw: "Kan mami kerja cari uang. Kalo ga kerja nanti mami gimana beliin Ius roti, susu, biskuit"
Ius: "Xiong2 udah punya otii kok. Oti (roti) warna coklat. udah ada kok..." (sambil senyum manis dan matanya polos liatin gw)
*byaaarr...jleb* pengen mewek rasanya saat itu juga TT____________TT
-Icarus, 2 years and 7 months old-
Tuesday, December 11, 2012
Rivalitas Mommy vs Nanny
Jadi masalah klasik ibu2 yang pake nanny/suster/babysitter/mbak (apapun panggilannya) adalah "persaingan" antara si ibu dan si pengasuh itu untuk menjadi pilihan nomor satu si anak.
Persoalan ini bisa terjadi pada ibu bekerja, ibu yang di rumah saja/ibu rumah tangga atau pun yang bekerja dari rumah, tapi memang impact paling besar rata2 dirasakan oleh ibu2 bekerja.
Untuk ibu bekerja yang meninggalkan anaknya bersama pengasuh rata2 12 jam sehari (pertimbangkan juga macetnya Jakarta yaaa), kadang suka ada kejadian si anak lebih "memilih" pengasuh nya dibanding ibu nya sendiri.
Kalo sudah begitu, rasanya pasti "nyesss" banget yah, ngilu2 gimana di hati hehehe...
Puji Tuhan, gw belum pernah mengalami hal seperti itu. Ius malah bole dibilang lengket luar biasa sama gw. Apalagi kalo udah Sabtu Minggu, semua mua maunya mamiiii...ncus ga bole ngapa2in. Sampai ambilin air minum aja harus mami.
Yang biasa nya bisa makan sendiri, maunya disuapin mami. Bisa naik tangga sendiri, maunya digendong mami. Maka encok lah mami sepanjang weekend.
Beberapa teman dan saudara gw sampai heran, kenapa Ius bisa kayak gitu. Di hari kerja, dia juga ga merengek2 or nangis kalau gw tinggal kerja. Sepertinya dia mengerti.
Terus terang, gw ga punya tips or tricks khusus. Gw juga bukan tipe yang manjain anak. Gw ini tipe emak2 yanggalak tegas lho.
Ada teman gw yang bilang, "Lo nyusuin sih yah, jadi Ius lebih dekat sama elo. Bonding nya ada" It can be one of the reason. Walau ada juga teman gw yang anaknya nyusu, tetap aja ga bisa lepas dari nanny nya.
Ada yang bilang, Ius gw pelet. Kurang kerjaan amat yah gw pelet anak sendiri. Mending juga gw pelet siapa gitu yang ganteng, kaya dan royal. *penting*
Kejadian dimana ibu2 yang iri sama pengasuh juga banyak sekali. Sampai ada gw pernah diceritain, nanny nya disuruh pake masker lho sepanjang hari. Bukan karena alasan sterilitas, tapi supaya bayi nya ga kenal sama muka nanny nya *niat banget yah* -___________-''
Extreme case nya, ada salah satu orang yang gw kenal yang sampai marah and mukul/cubit anaknya sendiri gara2 itu anak nangis2 mau nya sama nanny aja :,(
Sebenarnya, kalau ditelaah lagi, itu bukan salah si nanny maupun si anak kan yah? Ada sih, nanny2 yang kurang ajar, mau "menguasai" anak. Tapi itu paling 1-2 kasus.
Dari lingkungan gw, yang sering gw lihat mostly the root cause ada pada orang tua anak itu sendiri kok. Maap yah kalau nanti ada yang tersinggung. But I just want to point out my view.
Ada anak temennya saudara gw yang sangking lengket nya sama nanny, ga bisa ditinggal barang semenit pun sama nanny nya. Nanny ke kamar mandi, anaknya bisa nangi ngejer jejeritan di depan pintu kamar mandi. That's how extreme.
Ada lagi anak lain yang semua mua harus sama nanny nya. Menjurus "anti mama sendiri" kalau mama nya yang mendekat, anaknya langsung nangis dan minta nanny aja.
Dari beberapa kasus di atas, gw penasaran donk, kenapa sih bisa begitu? Gw tanya lah ke orang tua nya (kepo banget yah gw), dan kebetulan juga para emak2 itu curhat sih sama gw (jadi ga kepo2 bener lah yah).
Gw : "Jadi si anak ini kalo siang di rumah sama siapa aja?"
Temen : "Yah sama si suster sih, ada mbak nya juga. Ada mertua/orang tua juga di rumah gw"
Gw : "Ohh...Kalau sabtu minggu atau libur, lo "terjun" langsung ngurusin anak?"
Temen : "Yah ngga juga lah, ren. Gw kan cape kerja. Weekend gw pengen istirahat juga."
Gw : (dalam hati) "That's 1 of the reason why anak lo lebih milih sm nanny sih. Your time for him/her ga ada"
Gw : "Kalo malam tidur sama elo?"
Temen : "Sama suster lah, ren. Ga sanggup gw. Gw pulang sampe rumah udah jam 8, besok pagi harus bangun jam 5, malam ga bisa gw begadang."
Gw : (ga comment dan ga nanya apa2 lagi) -___________-
Dont get me wrong yah, I dont judge. I am not against anak tidur sama nanny. But in my very personal opinion, alasannya harus kuat.
If you have babyblues, sakit yang ga memungkinkan elo ngerawat/tidur sm anak, kerja di luar kota dan alasan2 ekstrim/kuat lainnya, then masuk di akal gw if you let your baby sleep with the nanny *campur aduk bahasa gw, sok enggris. Sebodo*
Tapi kalau hanya demi alasan to get your night sleep, capek ngurus bayi, ga bisa begadang, etc...sorry, I have to say: "Dont have baby(ies) at the first place, darling!"
Dan jangan berani2 nya lo komplen kalo anak lo at the end lebih milih si nanny if you let them together 24/7. Apalagi sampe anaknya dipukul and nanny nya disuruh pake masker seharian -__-
You have been selfish enough to let your baby NOT be with you all day and night long, so dont be selfish complaining why the baby/kid chooses the nanny over you.
Cerita paling bikin gw melongo yang pernah gw denger: "Anak gw tidur sama suster nya. Soalnya si Choki (anjing nya) tidur sama gw kan, ren. Mana bisa anak gw juga tidur bareng" (rasanya gw pengen buka itu kepala si emak dan liat isinya. Jangan2 kecilan otak dia dibanding punya gw).
Yah demikianlah....panjang yah booo postingan kali ini. Just my two cents, though.
Again, I am not judging yah. Prinsip gw tetap sama, You dont have to defend yourself. You are the mom, you know what's best.
However, in some cases, you also need to really take a look and re-think what you have done, right?
Persoalan ini bisa terjadi pada ibu bekerja, ibu yang di rumah saja/ibu rumah tangga atau pun yang bekerja dari rumah, tapi memang impact paling besar rata2 dirasakan oleh ibu2 bekerja.
Untuk ibu bekerja yang meninggalkan anaknya bersama pengasuh rata2 12 jam sehari (pertimbangkan juga macetnya Jakarta yaaa), kadang suka ada kejadian si anak lebih "memilih" pengasuh nya dibanding ibu nya sendiri.
Kalo sudah begitu, rasanya pasti "nyesss" banget yah, ngilu2 gimana di hati hehehe...
Puji Tuhan, gw belum pernah mengalami hal seperti itu. Ius malah bole dibilang lengket luar biasa sama gw. Apalagi kalo udah Sabtu Minggu, semua mua maunya mamiiii...ncus ga bole ngapa2in. Sampai ambilin air minum aja harus mami.
Yang biasa nya bisa makan sendiri, maunya disuapin mami. Bisa naik tangga sendiri, maunya digendong mami. Maka encok lah mami sepanjang weekend.
Beberapa teman dan saudara gw sampai heran, kenapa Ius bisa kayak gitu. Di hari kerja, dia juga ga merengek2 or nangis kalau gw tinggal kerja. Sepertinya dia mengerti.
Terus terang, gw ga punya tips or tricks khusus. Gw juga bukan tipe yang manjain anak. Gw ini tipe emak2 yang
Ada teman gw yang bilang, "Lo nyusuin sih yah, jadi Ius lebih dekat sama elo. Bonding nya ada" It can be one of the reason. Walau ada juga teman gw yang anaknya nyusu, tetap aja ga bisa lepas dari nanny nya.
Ada yang bilang, Ius gw pelet. Kurang kerjaan amat yah gw pelet anak sendiri. Mending juga gw pelet siapa gitu yang ganteng, kaya dan royal. *penting*
Kejadian dimana ibu2 yang iri sama pengasuh juga banyak sekali. Sampai ada gw pernah diceritain, nanny nya disuruh pake masker lho sepanjang hari. Bukan karena alasan sterilitas, tapi supaya bayi nya ga kenal sama muka nanny nya *niat banget yah* -___________-''
Extreme case nya, ada salah satu orang yang gw kenal yang sampai marah and mukul/cubit anaknya sendiri gara2 itu anak nangis2 mau nya sama nanny aja :,(
Sebenarnya, kalau ditelaah lagi, itu bukan salah si nanny maupun si anak kan yah? Ada sih, nanny2 yang kurang ajar, mau "menguasai" anak. Tapi itu paling 1-2 kasus.
Dari lingkungan gw, yang sering gw lihat mostly the root cause ada pada orang tua anak itu sendiri kok. Maap yah kalau nanti ada yang tersinggung. But I just want to point out my view.
Ada anak temennya saudara gw yang sangking lengket nya sama nanny, ga bisa ditinggal barang semenit pun sama nanny nya. Nanny ke kamar mandi, anaknya bisa nangi ngejer jejeritan di depan pintu kamar mandi. That's how extreme.
Ada lagi anak lain yang semua mua harus sama nanny nya. Menjurus "anti mama sendiri" kalau mama nya yang mendekat, anaknya langsung nangis dan minta nanny aja.
Dari beberapa kasus di atas, gw penasaran donk, kenapa sih bisa begitu? Gw tanya lah ke orang tua nya (kepo banget yah gw), dan kebetulan juga para emak2 itu curhat sih sama gw (jadi ga kepo2 bener lah yah).
Gw : "Jadi si anak ini kalo siang di rumah sama siapa aja?"
Temen : "Yah sama si suster sih, ada mbak nya juga. Ada mertua/orang tua juga di rumah gw"
Gw : "Ohh...Kalau sabtu minggu atau libur, lo "terjun" langsung ngurusin anak?"
Temen : "Yah ngga juga lah, ren. Gw kan cape kerja. Weekend gw pengen istirahat juga."
Gw : (dalam hati) "That's 1 of the reason why anak lo lebih milih sm nanny sih. Your time for him/her ga ada"
Gw : "Kalo malam tidur sama elo?"
Temen : "Sama suster lah, ren. Ga sanggup gw. Gw pulang sampe rumah udah jam 8, besok pagi harus bangun jam 5, malam ga bisa gw begadang."
Gw : (ga comment dan ga nanya apa2 lagi) -___________-
Dont get me wrong yah, I dont judge. I am not against anak tidur sama nanny. But in my very personal opinion, alasannya harus kuat.
If you have babyblues, sakit yang ga memungkinkan elo ngerawat/tidur sm anak, kerja di luar kota dan alasan2 ekstrim/kuat lainnya, then masuk di akal gw if you let your baby sleep with the nanny *campur aduk bahasa gw, sok enggris. Sebodo*
Tapi kalau hanya demi alasan to get your night sleep, capek ngurus bayi, ga bisa begadang, etc...sorry, I have to say: "Dont have baby(ies) at the first place, darling!"
Dan jangan berani2 nya lo komplen kalo anak lo at the end lebih milih si nanny if you let them together 24/7. Apalagi sampe anaknya dipukul and nanny nya disuruh pake masker seharian -__-
You have been selfish enough to let your baby NOT be with you all day and night long, so dont be selfish complaining why the baby/kid chooses the nanny over you.
Cerita paling bikin gw melongo yang pernah gw denger: "Anak gw tidur sama suster nya. Soalnya si Choki (anjing nya) tidur sama gw kan, ren. Mana bisa anak gw juga tidur bareng" (rasanya gw pengen buka itu kepala si emak dan liat isinya. Jangan2 kecilan otak dia dibanding punya gw).
Yah demikianlah....panjang yah booo postingan kali ini. Just my two cents, though.
Again, I am not judging yah. Prinsip gw tetap sama, You dont have to defend yourself. You are the mom, you know what's best.
However, in some cases, you also need to really take a look and re-think what you have done, right?
Monday, November 26, 2012
You are competing with the wrong Mom
Jadi yah, hidup di dunia per-ibu2an (bahasa apa pula ini) zaman sekarang memang gampang2 susah. Percaya ga percaya, per-bully-an di dunia ibu2 itu sekarang sedang trend. Macam anak sekolahan aja kalo dipikir2.
Belum lagi kompetitif nya ibu2 zaman sekarang. Mulai dari hal2 biasa, yang penting, sampai yang ga penting menjurus ajaib misalnya: anak gw pipis 5 kali semalam, anak lo berapa kali? *serius*
Dan gw sebagai emak2pemalas rendah hati, kadang suka risih sendiri menghadapi emak2 kompetitip ini, terutama kompetitip ga penting dan menjurus nyinyir.
Gw punya sekelompok teman yang udah ibu2, dan 1-2 orang di antara nya luarrrr biasa kompetitip menjurus nyinyir.
Dari mulai gw hamil, lahiran, nyusuin sampe sekarang...adaaa aja komen2 yang bikin gw pengen ngeluarin sinar penghancur macam ultraman. *beep...beep...*
Nih gw rangkum yah beberapa komen yang menurut gw juara banget:
"Lo kenapa sih ga normal aja lahirannya? Ius kan kecil gitu pas lahir, ga gede2 amat. Lo ga takut kalo lahiran cesar nti anak lo durhaka sama mama nya?" (ini yang ngomong lagi kuliah S-2 lhooo...otaknya ketinggalan di perut emaknya kyknya).
"Ius makannya banyak yah, tp kurus2 aja. Cacingan itu kayaknya, masih ASI kan sampe umur segini? Iyah, bisa cacingan sih " (Yang ngomong iningakunya udah keliling dunia ke yurop, amerikah, ostrali, cina, dll)
"Ius belum sekolah yah? Udah 2 tahun lebih kan? Anak gw udah sekolah (anaknya seumuran Ius, beda 2 bulan kalo ga salah), sekarang sih udah bisa baca dikit2 lah. Udah bisa berhitung, kenal angka. Ius kalo ga disekolahin sekarang nti ga ngejar lho pas masuk TK or SD nya. Maminya dulu kan juara umum, anaknya juga harus donk."
Masih banyak lagi lho komen2 ga mutu (menurut gw ga mutu samsek, menjurus sampah). Cuma itu beberapa komen yg juara banget deh.
Dan itu keluar dari mulut ibu2 yang notabene berpendidikan tinggi, pergaulan luas, wawasan juga (harusnya) luas, kelas sosial menengah ke atas.
I am not blaming them totally. Mungkin mereka memang ga tau, mungkin mereka ga seberuntung gw bisa mencari informasi mengenai mitos2 lahiran cesar dan ASI, misalnya. Mungkin mereka ada tekanan hidup yang lebih berat.
At the end I just wanna say, my goal is still the same. Since the beginning, since before I have this wonderful kid with me. My ultimate goal is to raise happy kid(s). Genius is just a bonus.
So, you are competing with the wrong Mom!
Belum lagi kompetitif nya ibu2 zaman sekarang. Mulai dari hal2 biasa, yang penting, sampai yang ga penting menjurus ajaib misalnya: anak gw pipis 5 kali semalam, anak lo berapa kali? *serius*
Dan gw sebagai emak2
Gw punya sekelompok teman yang udah ibu2, dan 1-2 orang di antara nya luarrrr biasa kompetitip menjurus nyinyir.
Dari mulai gw hamil, lahiran, nyusuin sampe sekarang...adaaa aja komen2 yang bikin gw pengen ngeluarin sinar penghancur macam ultraman. *beep...beep...*
Nih gw rangkum yah beberapa komen yang menurut gw juara banget:
"Lo kenapa sih ga normal aja lahirannya? Ius kan kecil gitu pas lahir, ga gede2 amat. Lo ga takut kalo lahiran cesar nti anak lo durhaka sama mama nya?" (ini yang ngomong lagi kuliah S-2 lhooo...otaknya ketinggalan di perut emaknya kyknya).
"Ius makannya banyak yah, tp kurus2 aja. Cacingan itu kayaknya, masih ASI kan sampe umur segini? Iyah, bisa cacingan sih " (Yang ngomong ini
"Ius belum sekolah yah? Udah 2 tahun lebih kan? Anak gw udah sekolah (anaknya seumuran Ius, beda 2 bulan kalo ga salah), sekarang sih udah bisa baca dikit2 lah. Udah bisa berhitung, kenal angka. Ius kalo ga disekolahin sekarang nti ga ngejar lho pas masuk TK or SD nya. Maminya dulu kan juara umum, anaknya juga harus donk."
Masih banyak lagi lho komen2 ga mutu (menurut gw ga mutu samsek, menjurus sampah). Cuma itu beberapa komen yg juara banget deh.
Dan itu keluar dari mulut ibu2 yang notabene berpendidikan tinggi, pergaulan luas, wawasan juga (harusnya) luas, kelas sosial menengah ke atas.
I am not blaming them totally. Mungkin mereka memang ga tau, mungkin mereka ga seberuntung gw bisa mencari informasi mengenai mitos2 lahiran cesar dan ASI, misalnya. Mungkin mereka ada tekanan hidup yang lebih berat.
At the end I just wanna say, my goal is still the same. Since the beginning, since before I have this wonderful kid with me. My ultimate goal is to raise happy kid(s). Genius is just a bonus.
So, you are competing with the wrong Mom!
Monday, October 15, 2012
Don't be a selfish mom
Sekitar akhir minggu lalu, gw baca postingan ini dari one of my favorite blogger.
Dan sambutan akan tulisan itu memang luar biasa, terutama dari para ibu2. Bener2 teriakan suara hati banget deh.
So, I have been a mom for wonderful 2 years and 4 months (lebih beberapa hari). And it's the most adventurous journey, EVER!
Dari awal punya anak, nyokap gw udah wanti2 kalo I HAVE to take care of myself first. Tidur selagi bisa tidur, makan yang bergizi, make sure pemulihan C-sec gw sempurna. I just love my Mom and can't imagine if she was not there for the first 3 weeks.
Dan gw setuju sm nyokap, bagaimana gw mau merawat si bayi merah kalo gw sendiri tak terawat atau even sakit? So, tekad gw dari awal adalah I will enjoy every second of motherhood! *kibas rambut*
Gw lakukan hal2 kecil yang bikin gw happy, I dont stress myself as I dont want to stress the baby. Gw mandi dan keramas, walo ada larangan 40 hari gw ga bole keramas (ini nenek moyang yang bikin tradisi ini pasti kutuan deh rambutnya!). Logika gw simple, kalo gw ga keramas, itu rambut jadi sarang kuman, debu, sarang laba2...masa iya gw nyusuin bayi, tidur sama bayi, gendong bayi?? Apa ga sesak nafas anak dan suami gw?
Selama masa cuti melahirkan, gw juga sangat rajin shopping onlen...yah tentunya berkisar di barang2 bayi. Shopping makes you happy, right?
Gw hire 1 ART dan 1 nanny. Too much? NOT for me.
Sempat sih sodara2 and mertua juga komen, bayi baru lahir gitu mah ga usah pake nanny. Nanti aja tunggu gedean. Entah kenapa gw merasa itu prinsip yang salah. Justru saat2 itulah we need helps. Masa2 baru melahirkan, new mom on the block, masih amatir, kagok, emosi tak stabil not to mention baby blues if any.
So, nanny/helper/mom/in-laws whatever help you can get, just get it!
Lagian gw kan juga kerja, jadi hire nanny dari awal begitu gw tinggal ngantor nanny nya udah pinter dan bisa gw percaya.
Being a mom doesnt mean you have to end your life. You need to embrace your life, live to your fullest and make sure you are happy with your life because there's a new little creature who
depends his/her life to you.
Don't be selfish by drawning yourself into the wrong steorotype of motherfood (kumal, ga keurus, stress, acak2an, tereak2 emosi, etc). You baby needs the best of you, physically and emotionally.
Don't be selfish...go out, go to spa, get a massage, go shopping, do gardening, watch movies, lunch date with your husband or your friends. Do whatever to get yourBESTself and bring it into your home. To your baby, to your husband, to your family :)
Dan mengutip postingan blog Mbak Lei: never, ever defend yourself. EVER. You’re the mom, you know what’s best!!
*juara banget deh ini di tengah2 suasana tak kondusif emak2 kepo dan kompetitip di society belakangan ini*
Dan sambutan akan tulisan itu memang luar biasa, terutama dari para ibu2. Bener2 teriakan suara hati banget deh.
So, I have been a mom for wonderful 2 years and 4 months (lebih beberapa hari). And it's the most adventurous journey, EVER!
Dari awal punya anak, nyokap gw udah wanti2 kalo I HAVE to take care of myself first. Tidur selagi bisa tidur, makan yang bergizi, make sure pemulihan C-sec gw sempurna. I just love my Mom and can't imagine if she was not there for the first 3 weeks.
Dan gw setuju sm nyokap, bagaimana gw mau merawat si bayi merah kalo gw sendiri tak terawat atau even sakit? So, tekad gw dari awal adalah I will enjoy every second of motherhood! *kibas rambut*
Gw lakukan hal2 kecil yang bikin gw happy, I dont stress myself as I dont want to stress the baby. Gw mandi dan keramas, walo ada larangan 40 hari gw ga bole keramas (ini nenek moyang yang bikin tradisi ini pasti kutuan deh rambutnya!). Logika gw simple, kalo gw ga keramas, itu rambut jadi sarang kuman, debu, sarang laba2...masa iya gw nyusuin bayi, tidur sama bayi, gendong bayi?? Apa ga sesak nafas anak dan suami gw?
Selama masa cuti melahirkan, gw juga sangat rajin shopping onlen...yah tentunya berkisar di barang2 bayi. Shopping makes you happy, right?
Gw hire 1 ART dan 1 nanny. Too much? NOT for me.
Sempat sih sodara2 and mertua juga komen, bayi baru lahir gitu mah ga usah pake nanny. Nanti aja tunggu gedean. Entah kenapa gw merasa itu prinsip yang salah. Justru saat2 itulah we need helps. Masa2 baru melahirkan, new mom on the block, masih amatir, kagok, emosi tak stabil not to mention baby blues if any.
So, nanny/helper/mom/in-laws whatever help you can get, just get it!
Lagian gw kan juga kerja, jadi hire nanny dari awal begitu gw tinggal ngantor nanny nya udah pinter dan bisa gw percaya.
Being a mom doesnt mean you have to end your life. You need to embrace your life, live to your fullest and make sure you are happy with your life because there's a new little creature who
depends his/her life to you.
Don't be selfish by drawning yourself into the wrong steorotype of motherfood (kumal, ga keurus, stress, acak2an, tereak2 emosi, etc). You baby needs the best of you, physically and emotionally.
Don't be selfish...go out, go to spa, get a massage, go shopping, do gardening, watch movies, lunch date with your husband or your friends. Do whatever to get yourBESTself and bring it into your home. To your baby, to your husband, to your family :)
Dan mengutip postingan blog Mbak Lei: never, ever defend yourself. EVER. You’re the mom, you know what’s best!!
*juara banget deh ini di tengah2 suasana tak kondusif emak2 kepo dan kompetitip di society belakangan ini*
Subscribe to:
Posts (Atom)