Sebenarnya udah lama mau nulis ini, tapi kelupaan dan tergantikan oleh hal2 lain. Trus entah kenapa tadi malam, liatin anak kicik yang lagi tidur, tiba2 keinget lagi sama topik ini.
Sebenarnya ini gw mau curcol sih...so bear with me :)
Singkat cerita, gw beberapa kali disebut/dijudge/dilabeli sebagai emak ambisius. Bagi yang bener2 kenal gw, mungkin akan mengangkat alis dan komen: "Masa sih?"
Karena yang bener2 kenal gw, baik itu keluarga atau teman2 dekat, tau pasti betapa kurang ambisius nya gw kalo udah menyangkut soal Ius. Gw ga bilang gw ga ambisius samsek. Ambisius itu pasti ada di tiap ibu, cuma memang kadar ambisius-ness (bahasa apa pula ini) gw ga gede. Ambisi terbesar gw dari Ius masih dalam perut adalah: "He will be a happy baby, happy boy, happy teenager, happy man" That's it.
Nah jalan menuju dia menjadi "happy" ini yang memang berliku2. Sebagai emak nya, gw diharuskan membantu Ius mencari dan eksplore hal2 yang bikin dia happy. Mulai dari hal simple like cuddling, mainan, timezone, MAKANAN (ini yg utama) sampai dengan mengembangkan hobby nya. I said hobby...not talent or bakat. Gw sadar, my son may have talent in things that he doesn't like or makes him happy. Jadi kalo dia punya hobby yang kebetulan adalah bakatnya...maka bersyukurlah gw. Kalo ngga, gw balik lagi ke ambisi utama gw: "Ius happy"
Rendah nya level ambisius-ness gw, bikin gw sempat disebut "emak ga pedulian" (serba salah yah, neeekkk). Misalnya umur 4 bulan Ius belum bisa tengkurap, gw santai minta ampun. Umur 1 tahun Ius belum ngomong, gw cuek bebek. At the end, Ius would decide when he wanted to do those milestones.
Nah trus kenapa donk tetiba gw disebut emak ambisius? Trigger awal nya adalah ketika gw dan suami memutuskan menerapkan multi languange ke Ius. Ini juga yang gw sempat diceramahi : "ini nih yg bikin anak nya telat ngomong" *tutup kuping, sumpal mulut yg ngomong pake pampers*
Lalu, ketika gw mulai masukin Ius sekolah di umur 17 bulan. Walo cm kelas playdates 1-2x seminggu dimana gw or suster nya masih ikut masuk kelas. Masih untung Ius ga gw masukin sekolah umur 6 bulan yah, bisa dirajam sekampung gw kayaknya. *sigh*
Waktu gw masukin Ius ke preschool nya yg sekarang, ada lagi donk tentu nya yg komen. Standard lah: "Mahal amat? International yah ga usah lah internasional. Jgn AMBISIUS? Yakin worth it? Ga sayang kan masih preschool n TK doank lho." *kembali tutup kuping, tunjukin slip gaji...nooh gaji gw gede, duit bukan masyaaalaaaahhhhh* *kemudian ditampar*
Dan gong nya...beberapa bulan lalu gw daftarin Ius buat les musik. Gw dan suami punya pertimbangan bahwa anak harus dikenalkan dengan musik dan olahraga. Perkara nanti nya dia suka atau ngga, mau mendalamin atau ngga, itu biar si anak yg putuskan. Yang penting dia ngerasain dulu deh.
Nah mulai deh komen2 bersliweran. Mulai dari Ius nya yg dianggap masih kekecilan lah, yang bilang ini cuma ambisi emak nya lah, emaknya kebanyakan duit lah *amiiinnnn*.
Kadang gw kasian yah sama emak2 zaman sekarang, ga cukup pusing kerja + ngurusin rumah/anak/suami. Masih ditambah beban mental dari orang2 yang sebenarnya ga tau apa2, tapi cuma pengen nyinyir doank.
I know, gw nulis beberapa kali dengan topik yang mirip seperti ini. Again, I am not whining, not complaining, not blaming. I just write it down, so I can read it one day in future and ensure I will not do any of those stuffs (nyinyir, kompetitip ga penting, judging ga jelas, komen tanpa dipikir). Gw ga bilang gw ga melakukan hal2 itu. Gw masih sering gemes liat anak2 yg disodorin sinetron sm emak2 nya, masih suka ngomong pedes kalo liat anak2 terlihat "dipaksa" melakukan sesuatu oleh orang tua nya (dipaksa makan porsi kuli, dipaksa mandiri sebelum waktunya), etc etc.
I am learning to limit myself, though. Trying very very hard :)
Size of my brain
- dailysiranica
- Come, read and rest your brain (maybe) forever
Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts
Wednesday, August 14, 2013
Thursday, July 18, 2013
Right or Left?
Peringatan: Ini bukan postingan tentang betapa buta arah nya gw sampe ga bisa bedain kanan or kiri (sometimes...errmm...most of the times).
Ius dari kecil sebenarnya sudah menunjukkan tanda2 Ambidextrous / Ambidexterity.
Kalo megang barang, makan, main, melambai atau apapun, keliatan kalo dia sebenarnya lebih banyak menggunakan tangan kiri. Gw dan papi nya sepakat untuk membiarkan itu. Toh ga ada yg salah, kecuali akan ada komentar2 "tradisional" dari beberapa pihak seperti: "Duuh...pake tangan manis donk..."
Dan gw udah wanti2 ke pengasuh nya untuk tidak menyebut tangan kanan sebagai "tangan manis", "tangan bagus" atau sejenis nya.
Tangan kanan yah tangan kanan. Tangan kiri yah tangan kiri. Ga perlu menjelek2an atau mengistimewakan salah satu kan?
Ketika mulai belajar memegang pena/pensil/crayon, Ius ternyata lebih nyaman menggunakan tangan kanan. Dan makin besar, makan pun dia terlihat lebih nyaman dengan tangan kanan. Untuk hal2 lain, dia selalu bergantian memakai tangan kanan dan kiri. Which is menurut gw, ga masalah.
Yang gw dan pak suami lakukan cm memperhatikan ke mana arah perkembangan anak ini dan give our best support. Ius dari kecil adalah anak yg multi languange. It was our decision to raise him like that despite of all the controversy out there.
Sekarang, dia bisa switch dengan cepat dan mudah from english to indonesian. Secepat apa? Kita ngobrol bertiga (Ius, gw dan papi nya), dan di tengah2 obrolan dia akan switch secara otomatis antara bahasa inggris dan indonesia. Inggris ketika dia berbicara atau menjawab pertanyaan papi nya. Dan indonesia ketika dia menoleh dan bicara dgn gw.
It's kinda funny when you see 3 of us chat :)
Kita juga melihat, dari kecil Ius punya ketertarikan dan bakat di seni. Terutama musik. Dari saat dia udah mulai bisa bersenandung, anak ini ga pernah fals. Sampe sekarang kalo nyanyi ga pernah fals. *emaknya bersin aja fals*
Dan dia juga punya daya imajinasi yg cukup baik. Misalnya: dia nyusun magnet kulkas berderet2. Trus bilang: "Mami...ini Mickey mouse" "Mami...ini truck"
Yang setelah gw liat2 memang mirip si mikimos dan truck.
Kesimpulan gw dan suami, otak kanan dan kiri Ius development nya berimbang dan cukup baik. Gw ga akan membahas otak kanan kiri tengah atau otak bagian apapun. Otak gw ga bakal sanggup buat ngebahas itu #otakicik.
Dan gw ga sedang membangga2kan anak sendiri, ini yg gw tulis adalah yg gw liat. I just want mu son, one day, knows that we did let him be the best he can. And he should be proud of himself.
Challenge terbesar gw saat ini adalah melawan komentar dan pandangan "tradisional" yg relatif menentang penggunaan tangan kiri (entah apa sebenarnya dosa tangan kiri ini pada mereka).
"Iiih...Ius kok terima nya pake tangan jelek sih?" *bedakin tangan kiri Ius biar cakepan dikit*
Notes: Ius juga kyknya ada gejala OCD. Not sure yet, will observe more on this :)
Ius dari kecil sebenarnya sudah menunjukkan tanda2 Ambidextrous / Ambidexterity.
Kalo megang barang, makan, main, melambai atau apapun, keliatan kalo dia sebenarnya lebih banyak menggunakan tangan kiri. Gw dan papi nya sepakat untuk membiarkan itu. Toh ga ada yg salah, kecuali akan ada komentar2 "tradisional" dari beberapa pihak seperti: "Duuh...pake tangan manis donk..."
Dan gw udah wanti2 ke pengasuh nya untuk tidak menyebut tangan kanan sebagai "tangan manis", "tangan bagus" atau sejenis nya.
Tangan kanan yah tangan kanan. Tangan kiri yah tangan kiri. Ga perlu menjelek2an atau mengistimewakan salah satu kan?
Ketika mulai belajar memegang pena/pensil/crayon, Ius ternyata lebih nyaman menggunakan tangan kanan. Dan makin besar, makan pun dia terlihat lebih nyaman dengan tangan kanan. Untuk hal2 lain, dia selalu bergantian memakai tangan kanan dan kiri. Which is menurut gw, ga masalah.
Yang gw dan pak suami lakukan cm memperhatikan ke mana arah perkembangan anak ini dan give our best support. Ius dari kecil adalah anak yg multi languange. It was our decision to raise him like that despite of all the controversy out there.
Sekarang, dia bisa switch dengan cepat dan mudah from english to indonesian. Secepat apa? Kita ngobrol bertiga (Ius, gw dan papi nya), dan di tengah2 obrolan dia akan switch secara otomatis antara bahasa inggris dan indonesia. Inggris ketika dia berbicara atau menjawab pertanyaan papi nya. Dan indonesia ketika dia menoleh dan bicara dgn gw.
It's kinda funny when you see 3 of us chat :)
Kita juga melihat, dari kecil Ius punya ketertarikan dan bakat di seni. Terutama musik. Dari saat dia udah mulai bisa bersenandung, anak ini ga pernah fals. Sampe sekarang kalo nyanyi ga pernah fals. *emaknya bersin aja fals*
Dan dia juga punya daya imajinasi yg cukup baik. Misalnya: dia nyusun magnet kulkas berderet2. Trus bilang: "Mami...ini Mickey mouse" "Mami...ini truck"
Yang setelah gw liat2 memang mirip si mikimos dan truck.
Kesimpulan gw dan suami, otak kanan dan kiri Ius development nya berimbang dan cukup baik. Gw ga akan membahas otak kanan kiri tengah atau otak bagian apapun. Otak gw ga bakal sanggup buat ngebahas itu #otakicik.
Dan gw ga sedang membangga2kan anak sendiri, ini yg gw tulis adalah yg gw liat. I just want mu son, one day, knows that we did let him be the best he can. And he should be proud of himself.
Challenge terbesar gw saat ini adalah melawan komentar dan pandangan "tradisional" yg relatif menentang penggunaan tangan kiri (entah apa sebenarnya dosa tangan kiri ini pada mereka).
"Iiih...Ius kok terima nya pake tangan jelek sih?" *bedakin tangan kiri Ius biar cakepan dikit*
Notes: Ius juga kyknya ada gejala OCD. Not sure yet, will observe more on this :)
Friday, May 3, 2013
This week's favorite
Blogwalking kanan kiri (keja woiiii), nyasar lah ke sini
OMG, begitu baca tulisan itu rasanya dunia jadi cerah ceria. Bukan karena gw merasa sebagai terrible parent selama ini, dari semula gw sudah berprinsip "my child, my rules" and there's always a story behind every parenting style.
Tapi gw menemukan bahwa tulisan itu sungguh menyegarkan (es kelapa muda kaleeee) dan dituliskan dengan amat sangat ringan, tepat, kocak, menohok dan sekaligus...menyegarkan!
one of my favorite part:
You are not a terrible parent if you can’t figure out a way for your children to eat as healthy as your friend’s children do. She’s obviously using a bizarre and probably illegal form of hypnotism.
You are not a terrible parent if you yell at your kids sometimes. You have little dictators living in your house. If someone else talked to you like that, they’d be put in prison.
You are not a terrible parent if you just can’t wait for them to go to bed.
OMG, begitu baca tulisan itu rasanya dunia jadi cerah ceria. Bukan karena gw merasa sebagai terrible parent selama ini, dari semula gw sudah berprinsip "my child, my rules" and there's always a story behind every parenting style.
Tapi gw menemukan bahwa tulisan itu sungguh menyegarkan (es kelapa muda kaleeee) dan dituliskan dengan amat sangat ringan, tepat, kocak, menohok dan sekaligus...menyegarkan!
one of my favorite part:
You are not a terrible parent if you can’t figure out a way for your children to eat as healthy as your friend’s children do. She’s obviously using a bizarre and probably illegal form of hypnotism.
You are not a terrible parent if you yell at your kids sometimes. You have little dictators living in your house. If someone else talked to you like that, they’d be put in prison.
You are not a terrible parent if you just can’t wait for them to go to bed.
Tuesday, December 11, 2012
Rivalitas Mommy vs Nanny
Jadi masalah klasik ibu2 yang pake nanny/suster/babysitter/mbak (apapun panggilannya) adalah "persaingan" antara si ibu dan si pengasuh itu untuk menjadi pilihan nomor satu si anak.
Persoalan ini bisa terjadi pada ibu bekerja, ibu yang di rumah saja/ibu rumah tangga atau pun yang bekerja dari rumah, tapi memang impact paling besar rata2 dirasakan oleh ibu2 bekerja.
Untuk ibu bekerja yang meninggalkan anaknya bersama pengasuh rata2 12 jam sehari (pertimbangkan juga macetnya Jakarta yaaa), kadang suka ada kejadian si anak lebih "memilih" pengasuh nya dibanding ibu nya sendiri.
Kalo sudah begitu, rasanya pasti "nyesss" banget yah, ngilu2 gimana di hati hehehe...
Puji Tuhan, gw belum pernah mengalami hal seperti itu. Ius malah bole dibilang lengket luar biasa sama gw. Apalagi kalo udah Sabtu Minggu, semua mua maunya mamiiii...ncus ga bole ngapa2in. Sampai ambilin air minum aja harus mami.
Yang biasa nya bisa makan sendiri, maunya disuapin mami. Bisa naik tangga sendiri, maunya digendong mami. Maka encok lah mami sepanjang weekend.
Beberapa teman dan saudara gw sampai heran, kenapa Ius bisa kayak gitu. Di hari kerja, dia juga ga merengek2 or nangis kalau gw tinggal kerja. Sepertinya dia mengerti.
Terus terang, gw ga punya tips or tricks khusus. Gw juga bukan tipe yang manjain anak. Gw ini tipe emak2 yanggalak tegas lho.
Ada teman gw yang bilang, "Lo nyusuin sih yah, jadi Ius lebih dekat sama elo. Bonding nya ada" It can be one of the reason. Walau ada juga teman gw yang anaknya nyusu, tetap aja ga bisa lepas dari nanny nya.
Ada yang bilang, Ius gw pelet. Kurang kerjaan amat yah gw pelet anak sendiri. Mending juga gw pelet siapa gitu yang ganteng, kaya dan royal. *penting*
Kejadian dimana ibu2 yang iri sama pengasuh juga banyak sekali. Sampai ada gw pernah diceritain, nanny nya disuruh pake masker lho sepanjang hari. Bukan karena alasan sterilitas, tapi supaya bayi nya ga kenal sama muka nanny nya *niat banget yah* -___________-''
Extreme case nya, ada salah satu orang yang gw kenal yang sampai marah and mukul/cubit anaknya sendiri gara2 itu anak nangis2 mau nya sama nanny aja :,(
Sebenarnya, kalau ditelaah lagi, itu bukan salah si nanny maupun si anak kan yah? Ada sih, nanny2 yang kurang ajar, mau "menguasai" anak. Tapi itu paling 1-2 kasus.
Dari lingkungan gw, yang sering gw lihat mostly the root cause ada pada orang tua anak itu sendiri kok. Maap yah kalau nanti ada yang tersinggung. But I just want to point out my view.
Ada anak temennya saudara gw yang sangking lengket nya sama nanny, ga bisa ditinggal barang semenit pun sama nanny nya. Nanny ke kamar mandi, anaknya bisa nangi ngejer jejeritan di depan pintu kamar mandi. That's how extreme.
Ada lagi anak lain yang semua mua harus sama nanny nya. Menjurus "anti mama sendiri" kalau mama nya yang mendekat, anaknya langsung nangis dan minta nanny aja.
Dari beberapa kasus di atas, gw penasaran donk, kenapa sih bisa begitu? Gw tanya lah ke orang tua nya (kepo banget yah gw), dan kebetulan juga para emak2 itu curhat sih sama gw (jadi ga kepo2 bener lah yah).
Gw : "Jadi si anak ini kalo siang di rumah sama siapa aja?"
Temen : "Yah sama si suster sih, ada mbak nya juga. Ada mertua/orang tua juga di rumah gw"
Gw : "Ohh...Kalau sabtu minggu atau libur, lo "terjun" langsung ngurusin anak?"
Temen : "Yah ngga juga lah, ren. Gw kan cape kerja. Weekend gw pengen istirahat juga."
Gw : (dalam hati) "That's 1 of the reason why anak lo lebih milih sm nanny sih. Your time for him/her ga ada"
Gw : "Kalo malam tidur sama elo?"
Temen : "Sama suster lah, ren. Ga sanggup gw. Gw pulang sampe rumah udah jam 8, besok pagi harus bangun jam 5, malam ga bisa gw begadang."
Gw : (ga comment dan ga nanya apa2 lagi) -___________-
Dont get me wrong yah, I dont judge. I am not against anak tidur sama nanny. But in my very personal opinion, alasannya harus kuat.
If you have babyblues, sakit yang ga memungkinkan elo ngerawat/tidur sm anak, kerja di luar kota dan alasan2 ekstrim/kuat lainnya, then masuk di akal gw if you let your baby sleep with the nanny *campur aduk bahasa gw, sok enggris. Sebodo*
Tapi kalau hanya demi alasan to get your night sleep, capek ngurus bayi, ga bisa begadang, etc...sorry, I have to say: "Dont have baby(ies) at the first place, darling!"
Dan jangan berani2 nya lo komplen kalo anak lo at the end lebih milih si nanny if you let them together 24/7. Apalagi sampe anaknya dipukul and nanny nya disuruh pake masker seharian -__-
You have been selfish enough to let your baby NOT be with you all day and night long, so dont be selfish complaining why the baby/kid chooses the nanny over you.
Cerita paling bikin gw melongo yang pernah gw denger: "Anak gw tidur sama suster nya. Soalnya si Choki (anjing nya) tidur sama gw kan, ren. Mana bisa anak gw juga tidur bareng" (rasanya gw pengen buka itu kepala si emak dan liat isinya. Jangan2 kecilan otak dia dibanding punya gw).
Yah demikianlah....panjang yah booo postingan kali ini. Just my two cents, though.
Again, I am not judging yah. Prinsip gw tetap sama, You dont have to defend yourself. You are the mom, you know what's best.
However, in some cases, you also need to really take a look and re-think what you have done, right?
Persoalan ini bisa terjadi pada ibu bekerja, ibu yang di rumah saja/ibu rumah tangga atau pun yang bekerja dari rumah, tapi memang impact paling besar rata2 dirasakan oleh ibu2 bekerja.
Untuk ibu bekerja yang meninggalkan anaknya bersama pengasuh rata2 12 jam sehari (pertimbangkan juga macetnya Jakarta yaaa), kadang suka ada kejadian si anak lebih "memilih" pengasuh nya dibanding ibu nya sendiri.
Kalo sudah begitu, rasanya pasti "nyesss" banget yah, ngilu2 gimana di hati hehehe...
Puji Tuhan, gw belum pernah mengalami hal seperti itu. Ius malah bole dibilang lengket luar biasa sama gw. Apalagi kalo udah Sabtu Minggu, semua mua maunya mamiiii...ncus ga bole ngapa2in. Sampai ambilin air minum aja harus mami.
Yang biasa nya bisa makan sendiri, maunya disuapin mami. Bisa naik tangga sendiri, maunya digendong mami. Maka encok lah mami sepanjang weekend.
Beberapa teman dan saudara gw sampai heran, kenapa Ius bisa kayak gitu. Di hari kerja, dia juga ga merengek2 or nangis kalau gw tinggal kerja. Sepertinya dia mengerti.
Terus terang, gw ga punya tips or tricks khusus. Gw juga bukan tipe yang manjain anak. Gw ini tipe emak2 yang
Ada teman gw yang bilang, "Lo nyusuin sih yah, jadi Ius lebih dekat sama elo. Bonding nya ada" It can be one of the reason. Walau ada juga teman gw yang anaknya nyusu, tetap aja ga bisa lepas dari nanny nya.
Ada yang bilang, Ius gw pelet. Kurang kerjaan amat yah gw pelet anak sendiri. Mending juga gw pelet siapa gitu yang ganteng, kaya dan royal. *penting*
Kejadian dimana ibu2 yang iri sama pengasuh juga banyak sekali. Sampai ada gw pernah diceritain, nanny nya disuruh pake masker lho sepanjang hari. Bukan karena alasan sterilitas, tapi supaya bayi nya ga kenal sama muka nanny nya *niat banget yah* -___________-''
Extreme case nya, ada salah satu orang yang gw kenal yang sampai marah and mukul/cubit anaknya sendiri gara2 itu anak nangis2 mau nya sama nanny aja :,(
Sebenarnya, kalau ditelaah lagi, itu bukan salah si nanny maupun si anak kan yah? Ada sih, nanny2 yang kurang ajar, mau "menguasai" anak. Tapi itu paling 1-2 kasus.
Dari lingkungan gw, yang sering gw lihat mostly the root cause ada pada orang tua anak itu sendiri kok. Maap yah kalau nanti ada yang tersinggung. But I just want to point out my view.
Ada anak temennya saudara gw yang sangking lengket nya sama nanny, ga bisa ditinggal barang semenit pun sama nanny nya. Nanny ke kamar mandi, anaknya bisa nangi ngejer jejeritan di depan pintu kamar mandi. That's how extreme.
Ada lagi anak lain yang semua mua harus sama nanny nya. Menjurus "anti mama sendiri" kalau mama nya yang mendekat, anaknya langsung nangis dan minta nanny aja.
Dari beberapa kasus di atas, gw penasaran donk, kenapa sih bisa begitu? Gw tanya lah ke orang tua nya (kepo banget yah gw), dan kebetulan juga para emak2 itu curhat sih sama gw (jadi ga kepo2 bener lah yah).
Gw : "Jadi si anak ini kalo siang di rumah sama siapa aja?"
Temen : "Yah sama si suster sih, ada mbak nya juga. Ada mertua/orang tua juga di rumah gw"
Gw : "Ohh...Kalau sabtu minggu atau libur, lo "terjun" langsung ngurusin anak?"
Temen : "Yah ngga juga lah, ren. Gw kan cape kerja. Weekend gw pengen istirahat juga."
Gw : (dalam hati) "That's 1 of the reason why anak lo lebih milih sm nanny sih. Your time for him/her ga ada"
Gw : "Kalo malam tidur sama elo?"
Temen : "Sama suster lah, ren. Ga sanggup gw. Gw pulang sampe rumah udah jam 8, besok pagi harus bangun jam 5, malam ga bisa gw begadang."
Gw : (ga comment dan ga nanya apa2 lagi) -___________-
Dont get me wrong yah, I dont judge. I am not against anak tidur sama nanny. But in my very personal opinion, alasannya harus kuat.
If you have babyblues, sakit yang ga memungkinkan elo ngerawat/tidur sm anak, kerja di luar kota dan alasan2 ekstrim/kuat lainnya, then masuk di akal gw if you let your baby sleep with the nanny *campur aduk bahasa gw, sok enggris. Sebodo*
Tapi kalau hanya demi alasan to get your night sleep, capek ngurus bayi, ga bisa begadang, etc...sorry, I have to say: "Dont have baby(ies) at the first place, darling!"
Dan jangan berani2 nya lo komplen kalo anak lo at the end lebih milih si nanny if you let them together 24/7. Apalagi sampe anaknya dipukul and nanny nya disuruh pake masker seharian -__-
You have been selfish enough to let your baby NOT be with you all day and night long, so dont be selfish complaining why the baby/kid chooses the nanny over you.
Cerita paling bikin gw melongo yang pernah gw denger: "Anak gw tidur sama suster nya. Soalnya si Choki (anjing nya) tidur sama gw kan, ren. Mana bisa anak gw juga tidur bareng" (rasanya gw pengen buka itu kepala si emak dan liat isinya. Jangan2 kecilan otak dia dibanding punya gw).
Yah demikianlah....panjang yah booo postingan kali ini. Just my two cents, though.
Again, I am not judging yah. Prinsip gw tetap sama, You dont have to defend yourself. You are the mom, you know what's best.
However, in some cases, you also need to really take a look and re-think what you have done, right?
Monday, November 26, 2012
You are competing with the wrong Mom
Jadi yah, hidup di dunia per-ibu2an (bahasa apa pula ini) zaman sekarang memang gampang2 susah. Percaya ga percaya, per-bully-an di dunia ibu2 itu sekarang sedang trend. Macam anak sekolahan aja kalo dipikir2.
Belum lagi kompetitif nya ibu2 zaman sekarang. Mulai dari hal2 biasa, yang penting, sampai yang ga penting menjurus ajaib misalnya: anak gw pipis 5 kali semalam, anak lo berapa kali? *serius*
Dan gw sebagai emak2pemalas rendah hati, kadang suka risih sendiri menghadapi emak2 kompetitip ini, terutama kompetitip ga penting dan menjurus nyinyir.
Gw punya sekelompok teman yang udah ibu2, dan 1-2 orang di antara nya luarrrr biasa kompetitip menjurus nyinyir.
Dari mulai gw hamil, lahiran, nyusuin sampe sekarang...adaaa aja komen2 yang bikin gw pengen ngeluarin sinar penghancur macam ultraman. *beep...beep...*
Nih gw rangkum yah beberapa komen yang menurut gw juara banget:
"Lo kenapa sih ga normal aja lahirannya? Ius kan kecil gitu pas lahir, ga gede2 amat. Lo ga takut kalo lahiran cesar nti anak lo durhaka sama mama nya?" (ini yang ngomong lagi kuliah S-2 lhooo...otaknya ketinggalan di perut emaknya kyknya).
"Ius makannya banyak yah, tp kurus2 aja. Cacingan itu kayaknya, masih ASI kan sampe umur segini? Iyah, bisa cacingan sih " (Yang ngomong iningakunya udah keliling dunia ke yurop, amerikah, ostrali, cina, dll)
"Ius belum sekolah yah? Udah 2 tahun lebih kan? Anak gw udah sekolah (anaknya seumuran Ius, beda 2 bulan kalo ga salah), sekarang sih udah bisa baca dikit2 lah. Udah bisa berhitung, kenal angka. Ius kalo ga disekolahin sekarang nti ga ngejar lho pas masuk TK or SD nya. Maminya dulu kan juara umum, anaknya juga harus donk."
Masih banyak lagi lho komen2 ga mutu (menurut gw ga mutu samsek, menjurus sampah). Cuma itu beberapa komen yg juara banget deh.
Dan itu keluar dari mulut ibu2 yang notabene berpendidikan tinggi, pergaulan luas, wawasan juga (harusnya) luas, kelas sosial menengah ke atas.
I am not blaming them totally. Mungkin mereka memang ga tau, mungkin mereka ga seberuntung gw bisa mencari informasi mengenai mitos2 lahiran cesar dan ASI, misalnya. Mungkin mereka ada tekanan hidup yang lebih berat.
At the end I just wanna say, my goal is still the same. Since the beginning, since before I have this wonderful kid with me. My ultimate goal is to raise happy kid(s). Genius is just a bonus.
So, you are competing with the wrong Mom!
Belum lagi kompetitif nya ibu2 zaman sekarang. Mulai dari hal2 biasa, yang penting, sampai yang ga penting menjurus ajaib misalnya: anak gw pipis 5 kali semalam, anak lo berapa kali? *serius*
Dan gw sebagai emak2
Gw punya sekelompok teman yang udah ibu2, dan 1-2 orang di antara nya luarrrr biasa kompetitip menjurus nyinyir.
Dari mulai gw hamil, lahiran, nyusuin sampe sekarang...adaaa aja komen2 yang bikin gw pengen ngeluarin sinar penghancur macam ultraman. *beep...beep...*
Nih gw rangkum yah beberapa komen yang menurut gw juara banget:
"Lo kenapa sih ga normal aja lahirannya? Ius kan kecil gitu pas lahir, ga gede2 amat. Lo ga takut kalo lahiran cesar nti anak lo durhaka sama mama nya?" (ini yang ngomong lagi kuliah S-2 lhooo...otaknya ketinggalan di perut emaknya kyknya).
"Ius makannya banyak yah, tp kurus2 aja. Cacingan itu kayaknya, masih ASI kan sampe umur segini? Iyah, bisa cacingan sih " (Yang ngomong ini
"Ius belum sekolah yah? Udah 2 tahun lebih kan? Anak gw udah sekolah (anaknya seumuran Ius, beda 2 bulan kalo ga salah), sekarang sih udah bisa baca dikit2 lah. Udah bisa berhitung, kenal angka. Ius kalo ga disekolahin sekarang nti ga ngejar lho pas masuk TK or SD nya. Maminya dulu kan juara umum, anaknya juga harus donk."
Masih banyak lagi lho komen2 ga mutu (menurut gw ga mutu samsek, menjurus sampah). Cuma itu beberapa komen yg juara banget deh.
Dan itu keluar dari mulut ibu2 yang notabene berpendidikan tinggi, pergaulan luas, wawasan juga (harusnya) luas, kelas sosial menengah ke atas.
I am not blaming them totally. Mungkin mereka memang ga tau, mungkin mereka ga seberuntung gw bisa mencari informasi mengenai mitos2 lahiran cesar dan ASI, misalnya. Mungkin mereka ada tekanan hidup yang lebih berat.
At the end I just wanna say, my goal is still the same. Since the beginning, since before I have this wonderful kid with me. My ultimate goal is to raise happy kid(s). Genius is just a bonus.
So, you are competing with the wrong Mom!
Monday, October 15, 2012
Don't be a selfish mom
Sekitar akhir minggu lalu, gw baca postingan ini dari one of my favorite blogger.
Dan sambutan akan tulisan itu memang luar biasa, terutama dari para ibu2. Bener2 teriakan suara hati banget deh.
So, I have been a mom for wonderful 2 years and 4 months (lebih beberapa hari). And it's the most adventurous journey, EVER!
Dari awal punya anak, nyokap gw udah wanti2 kalo I HAVE to take care of myself first. Tidur selagi bisa tidur, makan yang bergizi, make sure pemulihan C-sec gw sempurna. I just love my Mom and can't imagine if she was not there for the first 3 weeks.
Dan gw setuju sm nyokap, bagaimana gw mau merawat si bayi merah kalo gw sendiri tak terawat atau even sakit? So, tekad gw dari awal adalah I will enjoy every second of motherhood! *kibas rambut*
Gw lakukan hal2 kecil yang bikin gw happy, I dont stress myself as I dont want to stress the baby. Gw mandi dan keramas, walo ada larangan 40 hari gw ga bole keramas (ini nenek moyang yang bikin tradisi ini pasti kutuan deh rambutnya!). Logika gw simple, kalo gw ga keramas, itu rambut jadi sarang kuman, debu, sarang laba2...masa iya gw nyusuin bayi, tidur sama bayi, gendong bayi?? Apa ga sesak nafas anak dan suami gw?
Selama masa cuti melahirkan, gw juga sangat rajin shopping onlen...yah tentunya berkisar di barang2 bayi. Shopping makes you happy, right?
Gw hire 1 ART dan 1 nanny. Too much? NOT for me.
Sempat sih sodara2 and mertua juga komen, bayi baru lahir gitu mah ga usah pake nanny. Nanti aja tunggu gedean. Entah kenapa gw merasa itu prinsip yang salah. Justru saat2 itulah we need helps. Masa2 baru melahirkan, new mom on the block, masih amatir, kagok, emosi tak stabil not to mention baby blues if any.
So, nanny/helper/mom/in-laws whatever help you can get, just get it!
Lagian gw kan juga kerja, jadi hire nanny dari awal begitu gw tinggal ngantor nanny nya udah pinter dan bisa gw percaya.
Being a mom doesnt mean you have to end your life. You need to embrace your life, live to your fullest and make sure you are happy with your life because there's a new little creature who
depends his/her life to you.
Don't be selfish by drawning yourself into the wrong steorotype of motherfood (kumal, ga keurus, stress, acak2an, tereak2 emosi, etc). You baby needs the best of you, physically and emotionally.
Don't be selfish...go out, go to spa, get a massage, go shopping, do gardening, watch movies, lunch date with your husband or your friends. Do whatever to get yourBESTself and bring it into your home. To your baby, to your husband, to your family :)
Dan mengutip postingan blog Mbak Lei: never, ever defend yourself. EVER. You’re the mom, you know what’s best!!
*juara banget deh ini di tengah2 suasana tak kondusif emak2 kepo dan kompetitip di society belakangan ini*
Dan sambutan akan tulisan itu memang luar biasa, terutama dari para ibu2. Bener2 teriakan suara hati banget deh.
So, I have been a mom for wonderful 2 years and 4 months (lebih beberapa hari). And it's the most adventurous journey, EVER!
Dari awal punya anak, nyokap gw udah wanti2 kalo I HAVE to take care of myself first. Tidur selagi bisa tidur, makan yang bergizi, make sure pemulihan C-sec gw sempurna. I just love my Mom and can't imagine if she was not there for the first 3 weeks.
Dan gw setuju sm nyokap, bagaimana gw mau merawat si bayi merah kalo gw sendiri tak terawat atau even sakit? So, tekad gw dari awal adalah I will enjoy every second of motherhood! *kibas rambut*
Gw lakukan hal2 kecil yang bikin gw happy, I dont stress myself as I dont want to stress the baby. Gw mandi dan keramas, walo ada larangan 40 hari gw ga bole keramas (ini nenek moyang yang bikin tradisi ini pasti kutuan deh rambutnya!). Logika gw simple, kalo gw ga keramas, itu rambut jadi sarang kuman, debu, sarang laba2...masa iya gw nyusuin bayi, tidur sama bayi, gendong bayi?? Apa ga sesak nafas anak dan suami gw?
Selama masa cuti melahirkan, gw juga sangat rajin shopping onlen...yah tentunya berkisar di barang2 bayi. Shopping makes you happy, right?
Gw hire 1 ART dan 1 nanny. Too much? NOT for me.
Sempat sih sodara2 and mertua juga komen, bayi baru lahir gitu mah ga usah pake nanny. Nanti aja tunggu gedean. Entah kenapa gw merasa itu prinsip yang salah. Justru saat2 itulah we need helps. Masa2 baru melahirkan, new mom on the block, masih amatir, kagok, emosi tak stabil not to mention baby blues if any.
So, nanny/helper/mom/in-laws whatever help you can get, just get it!
Lagian gw kan juga kerja, jadi hire nanny dari awal begitu gw tinggal ngantor nanny nya udah pinter dan bisa gw percaya.
Being a mom doesnt mean you have to end your life. You need to embrace your life, live to your fullest and make sure you are happy with your life because there's a new little creature who
depends his/her life to you.
Don't be selfish by drawning yourself into the wrong steorotype of motherfood (kumal, ga keurus, stress, acak2an, tereak2 emosi, etc). You baby needs the best of you, physically and emotionally.
Don't be selfish...go out, go to spa, get a massage, go shopping, do gardening, watch movies, lunch date with your husband or your friends. Do whatever to get yourBESTself and bring it into your home. To your baby, to your husband, to your family :)
Dan mengutip postingan blog Mbak Lei: never, ever defend yourself. EVER. You’re the mom, you know what’s best!!
*juara banget deh ini di tengah2 suasana tak kondusif emak2 kepo dan kompetitip di society belakangan ini*
Tuesday, September 11, 2012
Cerita Menyapih
So disclaimer: Icarus, 2 years 3 months 1 week and 1 day old, masih "nagih" session nyusuin malam sebelum bobo :)
Yah urusan sapih menyapih ini emang bukan urusan gampang. At least for me, it's not the most anticipated thing to do.
I loveeeeeeee breastfeeding Icarus so much, he is my best partner since the very first day of the journey. Jadi sebenarnya ketika urusan sapih menyapih tiba, ada sedikit ketidakrelaan juga di hati gw, bukan apa2, I just enjoyed the moments too much. And most people are hard to be out from their comfort zone, right?
Sebenarnya, gw udah bisa dengan "ikhlas" melepas session menyusui ini sih. Tekad gw untuk memberi Ius hak nya mendapat ASI sudah terpenuhi. Dan sebagai orang tua yang WHO compliance (ini istilahnya Abed), gw juga udah memenuhi standard WHO menyusui sampai dengan 2 tahun atau lebih.
Tapi memang benar kata nya, menyusui itu ga cuma sekedar urusan memberikan ASI. it's much more than that. That's the moment and the feeling which you really enjoy, beneran, I cant imagine if I decide not to breastfeed Ius.
Kembali ke urusan sapih menyapih. Udah banyak orang2 (dari yg relevant sampai yg ga relevant)memberikan komen dan saran kalo Ius sudah kelamaan nyusu nya. Harus segera, kudu, mesti disapih. Cara paksa bila perlu.
Tapi entah kenapa, gw merasa masih baik2 saja. Yah gw tetap berusaha menyapih Ius, tapi dengan cara yang gw rasa nyaman buat gw dan Ius. This is our journey, it's us who decide how to end it, right?
Afterall, gw pernah nge-twit kalo gw selalu menyerahkan "keputusan" pada Ius. Untuk urusan2 simple pun, seperti kapan dia mau tengkurap, mulai jalan, etc.
Ius menyapih diri sendiri dari dot/botol susu ketika umur 19 bulan lebih. Padahal waktu Ius umur 1 tahun, gw udah mencoba metode2 untuk menyapih dia dari botol. Tapi karena ga berhasil (dan gw tipe emak2 malas), akhirnya gw bilang ke diri gw sendiri :"For the sake of what gw paksa anak gw ini? Yah biar dia aja yg nentuin aja deh"
Bahkan saat umur 2 tahun dia belum menunjukkan tanda2 lancar ngomong dan gw mulai (kembali) dibanjiri seribu satu saran (yang sungguh gw appreciate dan I take it as their loves and cares to us), gw cm bilang ke Ius: "Mami trusts you, you are such a smart and independent little guy thus you will decide anything for yourself. Mami will support you, whatever your decision is coz mami simply loves you"
And not long after that, Ius mulai ngomong bawel ga berhenti2 sampai hari ini.
Ketika pertama2 gw sapih, gw adalah penganut aliran "sapih bertahap". Mulai dari menyapih Ius dari bangun tengah malam minta nen, stop nen kalo kita lagi keluar (gereja, ke mall, di mobil, etc) sampai akhirnya Ius cuma minta nen kalo mau bobo'. Kalo weekend, mau bobo' siang Ius masih suka minta.
Akhirnya gw melangkah ke tahap berikutnya, menyapih Ius dari nen kalo mau bobo' siang. Ternyata, again, he is my best partner. Gw ga menerapkan metode apa juga, tiba2 aja, gw baru nyadar weekend kemarin Ius sama sekali ga minta nen walaupun bobo' siang nya gw yang kelonin :)
Again, he made his own decision. I will let him decide.
PR gw sekarang tinggal menyapih Ius dari nen malam sebelum bobo' aja. I will take it slowly as I trust he knows best :)
Yah urusan sapih menyapih ini emang bukan urusan gampang. At least for me, it's not the most anticipated thing to do.
I loveeeeeeee breastfeeding Icarus so much, he is my best partner since the very first day of the journey. Jadi sebenarnya ketika urusan sapih menyapih tiba, ada sedikit ketidakrelaan juga di hati gw, bukan apa2, I just enjoyed the moments too much. And most people are hard to be out from their comfort zone, right?
Sebenarnya, gw udah bisa dengan "ikhlas" melepas session menyusui ini sih. Tekad gw untuk memberi Ius hak nya mendapat ASI sudah terpenuhi. Dan sebagai orang tua yang WHO compliance (ini istilahnya Abed), gw juga udah memenuhi standard WHO menyusui sampai dengan 2 tahun atau lebih.
Tapi memang benar kata nya, menyusui itu ga cuma sekedar urusan memberikan ASI. it's much more than that. That's the moment and the feeling which you really enjoy, beneran, I cant imagine if I decide not to breastfeed Ius.
Kembali ke urusan sapih menyapih. Udah banyak orang2 (dari yg relevant sampai yg ga relevant)memberikan komen dan saran kalo Ius sudah kelamaan nyusu nya. Harus segera, kudu, mesti disapih. Cara paksa bila perlu.
Tapi entah kenapa, gw merasa masih baik2 saja. Yah gw tetap berusaha menyapih Ius, tapi dengan cara yang gw rasa nyaman buat gw dan Ius. This is our journey, it's us who decide how to end it, right?
Afterall, gw pernah nge-twit kalo gw selalu menyerahkan "keputusan" pada Ius. Untuk urusan2 simple pun, seperti kapan dia mau tengkurap, mulai jalan, etc.
Ius menyapih diri sendiri dari dot/botol susu ketika umur 19 bulan lebih. Padahal waktu Ius umur 1 tahun, gw udah mencoba metode2 untuk menyapih dia dari botol. Tapi karena ga berhasil (dan gw tipe emak2 malas), akhirnya gw bilang ke diri gw sendiri :"For the sake of what gw paksa anak gw ini? Yah biar dia aja yg nentuin aja deh"
Bahkan saat umur 2 tahun dia belum menunjukkan tanda2 lancar ngomong dan gw mulai (kembali) dibanjiri seribu satu saran (yang sungguh gw appreciate dan I take it as their loves and cares to us), gw cm bilang ke Ius: "Mami trusts you, you are such a smart and independent little guy thus you will decide anything for yourself. Mami will support you, whatever your decision is coz mami simply loves you"
And not long after that, Ius mulai ngomong bawel ga berhenti2 sampai hari ini.
Ketika pertama2 gw sapih, gw adalah penganut aliran "sapih bertahap". Mulai dari menyapih Ius dari bangun tengah malam minta nen, stop nen kalo kita lagi keluar (gereja, ke mall, di mobil, etc) sampai akhirnya Ius cuma minta nen kalo mau bobo'. Kalo weekend, mau bobo' siang Ius masih suka minta.
Akhirnya gw melangkah ke tahap berikutnya, menyapih Ius dari nen kalo mau bobo' siang. Ternyata, again, he is my best partner. Gw ga menerapkan metode apa juga, tiba2 aja, gw baru nyadar weekend kemarin Ius sama sekali ga minta nen walaupun bobo' siang nya gw yang kelonin :)
Again, he made his own decision. I will let him decide.
PR gw sekarang tinggal menyapih Ius dari nen malam sebelum bobo' aja. I will take it slowly as I trust he knows best :)
Tuesday, June 26, 2012
The Challenging Two
Ius sekarang MUNGKIN ada dalam fase itu. I found it's very challenging to handle him nowadays. Walaupun sebenarnya, afterall, anak ini bener2 such a sweetheart dan super ga ngerepotin. Tapi secara naturally sumbu sabar gw emang pendek, maka terjadilah beberapa kali emak2 satu ini "meledak" dan nada suara naik sekian oktaf.
Yang kadang berakhir dengan si anak cemberut, mewek sampe terisak2...dan diakhiri dengan adegan peluk2an drama dan kiss2 mesra *duuuuh*
After that, si emak2 labil ini akan menyesal luar biasa dan mewek sendiri pas anaknya dah tidur or sometimes mewek sore2 di kantor pas kangen si anak kicik. Lebih parah dari sinetron+film india dah!
I am not a perfect mom but I love you sooo perfectly full, my Icarus.
Thank you for bearing with me, thank you for your patience towards me. *kisses and hugs*
Yang kadang berakhir dengan si anak cemberut, mewek sampe terisak2...dan diakhiri dengan adegan peluk2an drama dan kiss2 mesra *duuuuh*
After that, si emak2 labil ini akan menyesal luar biasa dan mewek sendiri pas anaknya dah tidur or sometimes mewek sore2 di kantor pas kangen si anak kicik. Lebih parah dari sinetron+film india dah!
I am not a perfect mom but I love you sooo perfectly full, my Icarus.
Thank you for bearing with me, thank you for your patience towards me. *kisses and hugs*
Tuesday, May 8, 2012
This is madness!
Dear Parents,
You have to read this! Harus, kudu, musti, wajib!
It just breaks my heart!
http://irrasistible.wordpress.com/2012/05/01/wake-up-call/
http://irrasistible.wordpress.com/2012/05/03/follow-up/
Gimana gw ga makin paranoid yah??? *peluk Ius kenceng2*
*langsung book seminar supermom dengan Ibu Elly Risman!*
You have to read this! Harus, kudu, musti, wajib!
It just breaks my heart!
http://irrasistible.wordpress.com/2012/05/01/wake-up-call/
http://irrasistible.wordpress.com/2012/05/03/follow-up/
Gimana gw ga makin paranoid yah??? *peluk Ius kenceng2*
*langsung book seminar supermom dengan Ibu Elly Risman!*
Subscribe to:
Posts (Atom)